Semburat Lembayung Di Hatiku
Jam dinding menunjukkan pukul 22.00, tetapi aku masih belum dapat memejamkan mataku dan memimpikan sesuatu yang indah dalam tidurku. Aku terus membalik-balikkan tubuhku di tempat tidur. Pikiranku terus memikirkan masalah-masalah yang timbul dalam diriku akhir-akhir ini, ingin rasanya aku memaksakan mataku untuk terpejam tapi niat itu kuurungkan ketika aku mengingat bahwa mulai esok adalah liburan semester, berarti aku tak perlu bangun pagi. “Mitha…. Sudah tidur?” terdengar namaku Paramitha Mutara dipanggil Mitha oleh suara yang tak asing lagi bagiku. Sambil mengetuk pintu kamarku ia mengulang pertanyaan yang sama, aku cepat-cepat membukakan pintu untuknya. Ayu, sepupuku yang berwajah ayu seperti namanya, dengan sifatnya yang sabar dan lemah lembut membuatnya tak pernah emosi, tidak seperti diriku, yang dicap oleh teman-temanku sebagai orang yang emosinya sering meledak, cerewet namun setegar karang, terbuka dan berwajah manis jika sedang tidak ngomel. Aku tak tahu itu pujian atau sindiran dari teman-temanku. “Belum, Yu…!” jawabku sambil menyilakannya masuk kekamarku. “Kenapa? Sibuk yach? Diuber-uber deadline majalah kampusmu yang akan terbit bulan ini?” “Ah… tidak terlalu, aku kan tidak bekerja sendiri seperti robot, seluruh anggotaku membantu maupun teman-teman lain. Dan auks ebagai Ketua Majalah Viriya, mengusahakan bekerjasama untuk mencapai deadline bulan ini. Disinilah lading emas untuk aku menanam karma baik.” “Iya… iya… aku ngerti, sekarang aku tahu.” Kata Ayu dengan semangat milenium. “Pasti kamu lagi mikirin si Arya, cowok pintar, baik, bijaksana yang itu tuch yang……sering meneleponmu, menasehatimu, seperti film Dewi Fortuna aja.” Aku terdiam. Tapi Ayu semakin menggodaku sambil menyanyikan, “Mula-mula kuanggap engkau teman biasa, tempat bersend gurau bersama, namun ternyata aku jatuh cinta.” “Stop….!”, sahutku. “Yu, dugaanmu setengah benar.” “Jadi, apa benarnya dong?!”, balasnya. Arya Dharma memang selalu dimemoriku akhir-akhir ini. Cowok seangkatanku, seorang cowok baik, pintar, rajin, bijaksana dan bertampang lumayan oke sehingga enggak malu-maluin dech untuk diajak ke pesta. Ini sebelumnya tidak kurasakan waku kami pertama kali berkenalan di depan puntu UKM, tapi akhir-akhir ini kamu sering bersama. Karena ia juga tertarik di bidang yagn sama, yaitu jurnalistik. Aku malah lebih tertarik pada Jhonny, seniorku, cowok tampan, humoris, dan baik hati. Aku mengaguminya sejak pertama kali bertemu di acara perkenalan mahasiswa baru Buddhis kampus, tapi saying ia sudah mempunyai pujaan hati. Aku sadar mungkin karma baikku belum berbuah untuk dapat memiliki hatinya. Tapi aku turut bahagia atas dia dan pasangnnya dan sampai saat ini kita masih berteman. Namun, jika aku mengingat Anggi salah satu temanku, yang banyak dikatakan orang-orang tingkahnya gak over acting, aku tak peduli apa yang dikatakan orang-orang selama ia tidak mengusikku. Ia telah “jadian”: dengan Indra, seniorku yang berpretasi itu, dalam hatiku jadi timbul kebencian dan penyesalan yang dalam. Walaupun aku sadar dalam ajaran Buddha sangat tidak dibernakan membenci seseorang kaerna akan menimbulkan karma buruk dan merusak diri sendiri. Anggi menjodohkan aku dengan Indra, seniorku cowok yang kukagumi hanya sebatas teman, lambat laun kaerna sifatnya yang baik, akhirnya aku tertarik juga, tetapi aku telah salah mengartikan kebaikannya dan comblangn Anggi. Ternyata Indra menjalin hubungan dengan Anggi. Aku berusaha untuk menerima dan tenang menghadapi ini tetapi yang paling kusesalkan kenapa mereka tidak mau memberitahuku, sampai akhirnya aku tahu dari Rani dan Anti teman dekatku. Teman-teman yang lain sering memanggil aku, Rani dan Anti sebagai tiga serangkai. Tapi aku sadar dan tidak membenci dua sejoli itu, aku sudah melupakan semuanya sampai-sampai persahabatan kami juga. Aku memang tidak bias mempunyai perasaan iri kepada mereka. Aku sudah bahagia dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang menghampiriku seperti mempunyai teman-teman yang baik. Mereka seperti Rani, Anti, Arya, Ricky dan banyak lagi yang lainnya, kesempatan menjadi Ketua Majalah Viriya, nilai-nilaiku yang mulai meningkat. Walaupun memegang jabatan itu bukanlah ambisi maupun impianku, namun aku menyenangi kehidupan yang kujalani. Di VIRIYA, pengalamanku bertambah, aku dapat mengenal para anggota Sangha, para pemuka agama, beberapa direktur perusahaan, menjalin hubungan dengan Dubes serta majalah Buddhis lainnya dan terjalinnya hubungan baik sesama teman. “Hey…. Jangan ngelamun dong. Kamu itu lebih oke bila tidak melamun, Non. Bukannya cerita malah ngelamun, ayo dong, bagaimana kabar si Arya?” Ayu mengagetkanku, aku tak sadar telah “ngecuekin: dia, untung ada lagu kesayangannya sehingga tanpa sadar ia telah asyik mendengarkan lagu-lagu kesayangannya. “Aaku, Rani, Anti dan Arya baik-baik saja, masih kompak untuk VIRIYA!”. “Ah… ngantuk ngomong ama kamu, ditanya kamu dengan Arya, kok dijawab semuanya, mendingan gue bobo.” Jam dinding menunjukkan pukul 24.00 akupun mulai memejamkan mata. Seperti biasa, walaupun tidur telat, namun bangunnya tetap on time pukul 05.30, setelah aku membersihkan badan, pekerjaan rutinku setiap pagi membersihkan altar kecil di rumahku, dan semua kulakukan dengan hati riang. “Sarapan, Non?” Tanya si mbok pebantuku ketika aku menuju dapur. “Yah, Mbok biasa yach indomei pakai telor dengan segelas susu!”, jawabku. Aku membca hot issue di Kompas hari ini sambil menyantap sarapanku. Tiba-tiba aku mendengar si mbok memanggilku dari ruang tamu. “Ada telpon, Non!” “Ya, dari siapa, Mbok?”, tanyaku. “Dari Arya,” katanya. Aku buru-buru menghampiri telpon itu. “Hallo.. Mitha yach?” terdengar suara lantang dari seberang sana. “Iya…. Ada apa , Ar?” tanyaku. “jadi nggak kita mengedi sebagian artikel yang telah terkumpul?” tanyanya. “Jadi.. dong, tapi kalau kamu sibuk dengan skripsimu, tidak apa-apa, akan kukerjakan bareng Rani atau Anti aja, kan sama”, jawabku singkat dan jelas. “Enggak apa-apa, mumpung lagi liburan aku bias membantumu, aku malah enggak enak kalau tidak membantu!”, jawabku meyakinkanku. Oke, kita ketemu di kampus jam 13.00, don’t be l;ate, bye.” Jawabku mengakhiri telepon. “Wah, telat sepuluh menit nich”, kata Arya. “Enggak apa-apa kok, gue juga baru dating, Ar” sapaku. “Iya… tadi aku harus membantu pamanku ditoko” jawab Arya dengan suaranya yang lantang. Kami mulai mengerjakan tanpa membicarakan hal-hal lain, sampai sampai tak kami sadari ternyata teman-teman yang lain sudah pulang dan waktu menunjukkan pukul 5 sore. Kampus sepi sekali bahkan tak ada seekor nyamukpun yang terlihat. Maka kami berduapun pulang, ditengah jembatan penyeberangan ia mengajakku mampir ke Gunung Agung mencari buku untuk skripsinya, karena aku p8ikir ini malam minggu yang kata orang malam panjang, yach aku ikut aja toh di rumah juga Brad Pitt, bintang pujaanku tidak apel karena sibuk syuting. “bener nich kamu mau ikut?”, tanyanya menyakinkanku. “Bener, buktinya kita sedang jalan menuju kesana!”, jawabku meyakinkannya. Aku memang orangnya setengah tukang bohong, tapi itu kulakukan hanya untuk bercanda dengan teman-teman aja. Sambil berjalan kami selalu membicarakan tentang VIRIYA, suatu pekerjaan yang cukup berat tapi kami semua senang menjalaninya. Dalam perjalanan kami tidak pernah menyinggung masalah yag menyangkut itu tuch…. Yang pribadi. Aku rasa ini mungkin karena sifat Arya yang pendiam, tertutup dan serius. Malam ini aku tidur nyenyak dan bahagia kubawa ke dunia tidurku. Esok hari aaku bangun dengan semangat. Dan minggu-minggu ini adalah minggu kesibukanku dengan teman-teman yang mengerjakan VIRIYA, hanya tinggal dua minggu lagi VIRIYA edisi terbaru naik cetak. Memang artike;l yang belum selesai hanya rubrik profil. “Kamu, aku dan Arya akan mewawancarai Bhante Pannavaro untuk profil!”, aku menjelaskan pada Rani dan Arya, dan “Kamu, dan Ricky akan mengunjungi Ibu Niken untuk pemasangan iklan!”, tambahku untuk Anti dan Ricky. Akhirnya, VIRIYA terbit, aku sangat puas dan berterima kasih pada teman-teman yang membantuku, serta tak lupa pada Arya yang selalu menjadi penasehat terbaikku untuk VIRIYA. Sebenernya Arya yang seharusnya menjadi Ketua Majalah VIRIYA, tapi karena ia sibuk mengambil skripsi semeter ini dan membantu orangtuanya maka ia mempercayakan jabatan itu kepadaku, yang kebetulan aku belum bisa mengambil skripsi semester ini. Sebenarnya aku sendriipun tidak mengerti mengapa ia sangat percaya dan mendukungku untuk menjadi ketua. Para seniorku mengucapkan selamat atas terbitnya VIRIYA edisi ini, katanya sich sudah lumayan bagus. Tapi ini tidak membuatku sombong, semua ini adalah berkat bantuan teman-teman. Dan tanpa kusadari ternyata sifat-sifat burukku mulai berubah sedikit demi sedikit, aku menjadi sabar dengan tidak gampang emosi, cerewetnya tinggal sedikit, tapi aku yakin salah satu faktornya adalah dia, Arya Dharma. “Selamat yach, Ar”, ucapku untuknya di JHCC, Jakarta. Iya, hari ini Arya diwisuda, tapi aku baru dapat menyusulnya satu semester lagi. “Terima kasih, Mitha”, jawabnya dengan penuh gembira. Satu semesterpun kujalani dan akhirnya aku dapat menyelesaikan skripsi dengan nilai terbaik. VIRIYA juga telah diteruskan oleh generasi-generasi yang mempunyai semangat tinggi dan kreatif, akupun senang sekali. Arya juga sudah mendapatkan pekerjaan dan jabatannyapun lumayan, yach hal ini tidak mengherenkan dengan kepintaran yang dimilikinya. Sebulan sekali kami masih sering telepon-teleponan dan juga tidak ketinggalan dengan tiga serangkai Aku, Rani dan Anti. “Selamat ya, Mitha atas keberhasilanmu!”, ucap Arya di telepon. “Terima kasih, Ar”, jawabku. “Itu juga berkat bantuanmu, terima kasih yach”, tambahku. Aku memang sering bertanya kepada Arya tentang skripsiku. “Oh iya Ar, besok malam bisa enggak kita ketemu di kafe dulu tempat kita sering ngumpul dengan teman-teman lain, ada yang ingin kubicarakan denganmu!”, tanyaku sambil sedikit memaksa, sifatku yagn satu ini memang susah dihilangin. “Besok malam, emm boleh, aku usahakan.... Oke see you tomorrow!” jawabnya. Aku datang lebih awak ke kafe walaupun semalam tidak bisa tidur karena bingung apakah aku bisa menyampaikan ini atau tidak kepada dia, Arya Dharma, teman yang kukagumi sejak kami bekerjasama sampai saat ini, setelah enam bulan lamanya kami tidak bertemu. Setelah menunggu selama dua jam, ia belum datang. Lalu kutinggalkan kafe dan diperjalanan pulang dimana hujan turun deras sekali, angin bertiup sangat kencang seakan akan membuat daun daun menari dan ditengah suara petir yang menggelagar aku melihat dia sedang buru-buru dengan pakaian kerja yang rapi namun basah kuyup menuju kafe tempat yang kami janjikan. Namun aku malah tidak berani menghampirinya. Aku buru-buru pulang kaerna besok pagi aku akan berangkat ke Amerika, negaranya Bill Clinton. Pukul 07.00 pagi, aku sedang dalam perjalanan menuju Bandara Soekarno hatta, pukul 08.00 pesawatku berangkat. Tapi aku masih sempat menitipkan surat ke si mbok untuk Arya yang katanya mau ke rumahku sebelum berangkat kerja. Mungkin karena semalam kami tidak dapat bertemu. “Mitha ada di rumah mbok?” tanya Arya. “Enggak ada, Den, Non Mitha sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali ke airport”, jawab si Mbok. “Memangnya Mitha mau kemana, Mbpk? Tanya Arya penasaran. “Lho, emangnya enggak tau kalau Non Mitha ke negara bule, emm itu tuch... Amerika!” jawab si Mbok setengah bingung dan klupa. “Tapi Non Mitha titip surat ini buat Den Arya!!”. “Terima kasih, ya Mbok”, jawab Arya sopan sambil meninggalkan rumahku. Sambil berjalan menuju Mercy-nya Arya membaca suratnya:Dear Arya,Maaf semalam aku tidak bisa menunggumu. Ketika kamu membaca surat ini, aku sedang menatap awan dari jendela pesawat menuju USA. Aku beruntung diterima menjadi redaksi Majalah TIME, mungkin disana tempatku meniti karier dan memulai hidup baru.Terima kasih telah mengajariku banyak hal tentang kehidupan ini. Nasehat dan sifatmu yang kukagumi telah membuatku belajar bagaimana menghargai orang lain, memendam emosi dan juga menyayangi seseorang dengan tulus.Aku tahu dihatimu telah hadir seseorang tapi jika kamu ijinkan, aku akan tetap menyayangimu, Arya.Kau adalah semburat lembayung di hatiku.Selamat tinggal, Arya. I wish our friendship is forever.Your friend,Paramitha Mutara.